SARAN MENINGKATKAN BUDAYA BACA BANGSA INDONESIA
Oleh : Wariz Hartawan S
Assalamualaikum
kawan, kalau sudah ditatapkan dengan kata-kata membaca, selalu bawaannya malas,
ngantuk, bosan, dan yang lainnya. Itu merupakan satu kesatuan paket antara
membaca dan bonusnya, yaitu seperti yang telah disebutkan tadi. Apalagi objek
yang dibaca merupakan buku mata pelajaran sehari – hari yang biasanya cukup
tebal dan cukup memiliki fungsi sebagai koleksi yang indah nan rapi berjajar di
rak atau meja belajar laksana perpustakaan kondang tanpa pengunjung. Coba kita
angan – angan, kalau kita kumpulkan semua buku yang kita miliki dari kita mulai
pertama mengenyam pendidikan sampai sekarang, jika dijadikan galeri, wah maka
luar biasa bukan main. Jangan – jangan perpustakaan formal jadi memiliki
saingan yang cukup berat nantinya. Sayangnya tidak juga, karena daftar buku
yang kita miliki hampir 40% buku latihan soal (LKS), 30% buku tulis, 20% buku
paket, dan 10% adalah lain – lain, seperti atlas, buku saku pramuka, pepak
bahasa daerah, kamus bahasa, dan lain – lain, masing masing satu buah. Tentu
saja pengunjung yang datang setiap hari, dan yang menjadi the best of pengunjung
adalah kita sendiri, itu juga kita hanya lihat – lihat, barangkali ingin
menyumbangkan buku baru. UNESCO pada 2012 mencatat indeks minat baca di
Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu
orang yang punya minat membaca. Sedangkan UNDP merilis angka melek huruf orang
dewasa Indonesia hanya 65,5 persen, sementara Malaysia sudah mencapai 86,4
persen.(REPUBLIKA.CO.ID). Hebat bukan main, misalkan kita berada dalam
kerumunan orang banyak dan jika disensus mencapai angka 1000, hanya ada satu
orang yang sangat antusias dengan membaca, sampai membawa banyak buku, merasa
senang dengan buku, maka 999 orang yang lain akan menilai satu orang pembaca
berat buku tersebut aneh. Jadi, orang membaca buku di Indonesia aneh. Ternyata
orang Indonesia tidak minat membaca buku karena takut dikatakan orang aneh.
Sungguh terlalu, tentu saja tidak begitu.
Membaca
tidak harus membaca buku mata pelajaran. Karena memang benar, itu terasa
membosankan. Membaca tidak harus dilakukan pada jam wajib belajar atau setelah
maghrib. Karena memang benar, itu sangat membuat mengantuk. Kita bisa membaca
semua yang bisa kita baca, yang tentunya memberi manfaat. Kita bisa membaca
novel, komik, biografi tokoh, majalah koran, dan sebagainya, pada waktu luang.
Budaya membaca dapat ditingkatkan melalui dunia formal pendidikan. Jika pada
umumnya, para guru meminta siswa untuk membeli buku latihan soal ataupun buku
paket di koperasi siswa, maka guru juga bisa menawarkan buku – buku bacaan
lainnya seperti biografi para tokoh terkenal, buku – buku motifasi, buku – buku
lainnya, yang penting, selain buku mata pelajaran. Jika pada umumnya, para guru
meminta siswa untuk membaca buku paket mata pelajaran pada saat jam pelajaran
menunjukkan kurang beberapa menit, karena materi habis. Maka guru bisa mengajak
siswa untuk membaca buku selain buku paket mata pelajaran. Atau jika perlu, didalam
kelas disediakan majalah, koran, surat kabar lainnya, sehingga bisa dibaca
siswa saat jam istirahat atau pada saat jam pelajaran kosong. Dengan begitu
membaca merupakan hal yang biasa untuk dilakukan, atau bahkan wajib. Karena
merasa jika tidak membaca satu hari saja, kita tidak mendapat informasi.
Dari pihak keluarga juga sangat berperan dalam
meningkatkan gemar membaca, tentunya harus dimulai sejak dini, dari seorang
anak yang masih kecil, namun disarankan jika berusia dibawah lima tahun, jangan
mengajari membaca (calistung). Misalkan dengan orang tua yang selalu memberi
contoh sering – sering membaca setiap waktu jika ada kelonggaran waktu. Maka
dengan begitu membaca merupakan suatu budaya dalam keluarga. Seperti halnya
keluarga yang menerapkan kedisiplinan tinggi, keluarga menerapkan betapa
pentingnya makan bersama, itu akan menjadi sebuah budaya dalam keluarga
tersebut, karena dilakukan oleh semua anggota keluarga sehingga menjadi hal
yang tidak boleh diabaikan.
Kesimpulannya, masyarakat Indonesia terutama generasi
pelajar lebih cenderung malas membaca, karena membaca selalu paling sering
disajikan dalam bentuk paksaan, yaitu dari lembaga sekolah yang meminta pelajar
untuk memahami materi pelajaran dengan membaca buku – buku mata pelajaran. Maka
hal tersebut harus diubah melalui saran - saran tadi. Sehingga dengan
meningkatnya budaya membaca di Indonesia akan menambah wawasan maupun informasi
yang dapat diolah dengan baik untuk meningkatkan kualitas kita sebagai manusia.
Jika sumber daya manusia bangsa Indonesia berkualitas sangat baik, maka
Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar