Jumat, 01 Mei 2015

SARAN MENINGKATKAN BUDAYA BACA BANGSA INDONESIA
Oleh    : Wariz Hartawan S
Assalamualaikum kawan, kalau sudah ditatapkan dengan kata-kata membaca, selalu bawaannya malas, ngantuk, bosan, dan yang lainnya. Itu merupakan satu kesatuan paket antara membaca dan bonusnya, yaitu seperti yang telah disebutkan tadi. Apalagi objek yang dibaca merupakan buku mata pelajaran sehari – hari yang biasanya cukup tebal dan cukup memiliki fungsi sebagai koleksi yang indah nan rapi berjajar di rak atau meja belajar laksana perpustakaan kondang tanpa pengunjung. Coba kita angan – angan, kalau kita kumpulkan semua buku yang kita miliki dari kita mulai pertama mengenyam pendidikan sampai sekarang, jika dijadikan galeri, wah maka luar biasa bukan main. Jangan – jangan perpustakaan formal jadi memiliki saingan yang cukup berat nantinya. Sayangnya tidak juga, karena daftar buku yang kita miliki hampir 40% buku latihan soal (LKS), 30% buku tulis, 20% buku paket, dan 10% adalah lain – lain, seperti atlas, buku saku pramuka, pepak bahasa daerah, kamus bahasa, dan lain – lain, masing masing satu buah. Tentu saja pengunjung yang datang setiap hari, dan yang menjadi the best of pengunjung adalah kita sendiri, itu juga kita hanya lihat – lihat, barangkali ingin menyumbangkan buku baru. UNESCO pada 2012 mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Sedangkan UNDP merilis angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen, sementara Malaysia sudah mencapai 86,4 persen.(REPUBLIKA.CO.ID). Hebat bukan main, misalkan kita berada dalam kerumunan orang banyak dan jika disensus mencapai angka 1000, hanya ada satu orang yang sangat antusias dengan membaca, sampai membawa banyak buku, merasa senang dengan buku, maka 999 orang yang lain akan menilai satu orang pembaca berat buku tersebut aneh. Jadi, orang membaca buku di Indonesia aneh. Ternyata orang Indonesia tidak minat membaca buku karena takut dikatakan orang aneh. Sungguh terlalu, tentu saja tidak begitu.
Membaca tidak harus membaca buku mata pelajaran. Karena memang benar, itu terasa membosankan. Membaca tidak harus dilakukan pada jam wajib belajar atau setelah maghrib. Karena memang benar, itu sangat membuat mengantuk. Kita bisa membaca semua yang bisa kita baca, yang tentunya memberi manfaat. Kita bisa membaca novel, komik, biografi tokoh, majalah koran, dan sebagainya, pada waktu luang. Budaya membaca dapat ditingkatkan melalui dunia formal pendidikan. Jika pada umumnya, para guru meminta siswa untuk membeli buku latihan soal ataupun buku paket di koperasi siswa, maka guru juga bisa menawarkan buku – buku bacaan lainnya seperti biografi para tokoh terkenal, buku – buku motifasi, buku – buku lainnya, yang penting, selain buku mata pelajaran. Jika pada umumnya, para guru meminta siswa untuk membaca buku paket mata pelajaran pada saat jam pelajaran menunjukkan kurang beberapa menit, karena materi habis. Maka guru bisa mengajak siswa untuk membaca buku selain buku paket mata pelajaran. Atau jika perlu, didalam kelas disediakan majalah, koran, surat kabar lainnya, sehingga bisa dibaca siswa saat jam istirahat atau pada saat jam pelajaran kosong. Dengan begitu membaca merupakan hal yang biasa untuk dilakukan, atau bahkan wajib. Karena merasa jika tidak membaca satu hari saja, kita tidak mendapat informasi.
            Dari pihak keluarga juga sangat berperan dalam meningkatkan gemar membaca, tentunya harus dimulai sejak dini, dari seorang anak yang masih kecil, namun disarankan jika berusia dibawah lima tahun, jangan mengajari membaca (calistung). Misalkan dengan orang tua yang selalu memberi contoh sering – sering membaca setiap waktu jika ada kelonggaran waktu. Maka dengan begitu membaca merupakan suatu budaya dalam keluarga. Seperti halnya keluarga yang menerapkan kedisiplinan tinggi, keluarga menerapkan betapa pentingnya makan bersama, itu akan menjadi sebuah budaya dalam keluarga tersebut, karena dilakukan oleh semua anggota keluarga sehingga menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

            Kesimpulannya, masyarakat Indonesia terutama generasi pelajar lebih cenderung malas membaca, karena membaca selalu paling sering disajikan dalam bentuk paksaan, yaitu dari lembaga sekolah yang meminta pelajar untuk memahami materi pelajaran dengan membaca buku – buku mata pelajaran. Maka hal tersebut harus diubah melalui saran - saran tadi. Sehingga dengan meningkatnya budaya membaca di Indonesia akan menambah wawasan maupun informasi yang dapat diolah dengan baik untuk meningkatkan kualitas kita sebagai manusia. Jika sumber daya manusia bangsa Indonesia berkualitas sangat baik, maka Indonesia akan menjadi negara yang sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar