CERPEN
Bapak Angin
oleh : Wariz Hartawan S
Aku nyalakan
lampu kamar karena semakin gelap, yang pada waktu itu jam dinding di kamarku
menunjukkan pukul setengah enam petang. Lantunan suara adzan yang begitu indah
pun terdengar dari segala penjuru arah. Namun aku masih saja terdiam dalam
ruangan tidurku yang sudah tertata rapi dengan cat tembok berwarna hijau segar
dan miniatur – miniatur mobil di meje belajar.
“Gus, apakah
kamu tidak segera beranjak dari ranjang dan segera memakai sarung”.
Perintah ibuku
dari depan pintu kamar dengan nada rendah.
“Iya bu, aku
sholat di rumah saja”
Jawabku dengan
membuka pintu kamar.
“Kenapa tidak di
musholah saja? Itu sholat masih belum dimulai”
Imbau ibuku yang
saat itu juga masih terdengar seruan pujian di musholah yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari rumahku.
“Di rumah saja
bu, di luar cuaca sepertinya kurang baik”
Ibuku hanya diam
dan aku melangkahkan kaki untuk sholat di ruangan samping kamar ibuku seusai
aku berwudhu. Langitpun terlihat semakin suram, terpandang dari dalam melalui
lubang jendela persegi yang sederhana. Setelah sholat kemudian terdengar suara
yang sangat aneh.
“wush...” nampaknya suara angin yang
sepertinya asingterdengar di telingaku.
Aku panggil
ibuku dengan suara sedikit lebih keras, tetapi tidak ada jawaban dan kemudian
listrik tiba – tiba padam.
Suasana pun
semakin sunyi, aku tidak bisa melohat apapun karena sangat gelap. Lalu aku
merabah – rabah benda di sekitarku, agar aku bisa sampai keruangan depan. Hawa
yang semakin dingin dan mencengkeram tidak terhindarkan lagi.
Tak ada
seorangpun di rumah, entah kemana ibu pergi. Sesampai di ruang depan masih
terasa gelap karena semua listrik padam. Hanyalah kilatan kilatan yang bisa
membantu penglihatanku untuk jarak pandang jauh. Aku sangat kebingungan karena
tiba – tiba hanya aku seorang yang berada di rumah.
Pohon mangga di
depan rumahku yang besar melambai – lambai dengan penuh semangat karena angin
yang tertiup sangatlah kencang. Kencangnya angin sampai – sampai mengangkat
atap depan rumahku yang terbuat dari seng. Aku sangat ketakutan dan merinding.
Aku merasa Tuhan sedang membriku pelajaran. Seakan – akan wilayah yang aku
tempati ingin angin hempaskan dan menyapu bersih tempat tinggal dan
lingkunganku atas perintah-Nya. Mungkin ini sebuah peringatan, tapi entah
karena apa dan untuk siapa. Aku hanya bisa memohon dan berdoa. Lalu aku
menyuarakan adzan dengan suara pelan berulang kali, tetapi angin masih saja
berhembus sangat kencang. Dan Tuhan sepertinya sedang menghentak, saat salah
satu batang pohon yang lumayan besar roboh, tetapi untungnya tidak ada seorang
pun yang lewat. Hatiku mulai gusar, apakah ini akhir dari semuanya. Lafalan
adzan terus aku kumandangkan meskipun dengan suara pelan. Aku merasa yang ku
lakukan sia – sia.
Layaknya habis
gelap terbitlah terang, setelah terdengar suara guntur, angin sudah mulai
menunjukkan kelembutannya. Ya, angin sudah redah dengan perlahan dan suasana
membaik meskipun padamnya listrik masih belum usai. Mungkin Tuhan menerima
pengakuanku melalui lantunan adzan yang aku bacakan berulang kali. Aku coba
langkahkan kaki ku untuk duduk pada kursi diruang tamu yang berwarna cokelat.
Aku menghelakan nafas sembari mengucap rasa syukur. Setelah itu sepertinya aku
melihat seseorang datang menuju rumahku, penglihatanku tidak begitu jelas. Dan
ternyata ibuku yang datang dengan berpayungan, aku merasa sangat senang, lalu
segera lah aku berdiri dan bertanya kepada ibu.
“Bu, Ibu dari
mana saja? Aku sangat khawatir dan ketakutan”
Tanyaku sedikit
kesal.
“Ibu dari
Musholah Gus, saat Ibu mau berangkat ke Musholah, Ibu lihat kamu sedang sholat”
Terang ibuku.
“Anginnya sangat
menakutkan Gus, saat Ibu kecil sampai sekarang baru kali ini terjadi angin
sekencang itu”
Cerita ibuku
dengan raut wajah yang tidak percaya.
“Iya bu, benar –
benar kuasa Yang Maha Esa”
Jawabku sambil
berangan – angan. Cuaca yang tadinya biasa – biasa saja waktu siang dan sore
hari ternyata tidak kusangka bisa berubah secepat itu dan bisa terjadi di
daerah yang sepertinya tidak pernah terprediksikan.
Keesokan harinya
semua orang sibuk membersihkan istananya masing – masing. Aku melihat antena
televisiku yang terpasang di samping rumahku roboh. Tapi tak apalah masih bisa
dibenahi. Yang harus segera aku benahi adalah imanku. Aku harus terus berdoa
kepada Sang Pencipta setiap saat, tidak hanya saat Dia menegurku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar